Selasa, 04 Maret 2014

Sukarno hadir di Jatos

 Sukarno hadir di Jatos

Genre: Drama
Distributor: MVP Pictures
Producer: Raam Punjabi
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Ben Sihombing, Hanung Bramantyo
Pemain: Ario Bayu, Maudy Koesnaedi, Tika Bravani, Lukman Sardi, Ferry Salim, Tanta Ginting, Agus Kuncoro, Sujiwo Tejo
Durasi: 2 jam 17 menit

Sukarno hadir di Jatos. Kehadiran Sukarno di Jatos Jatinangor banyak dinanti-nanti oleh penikmat film genre drama ini untuk di putar di cinema 21 Jatos. Fim Sukarno di sutradarai oleh Hanung Bramantyo. Berikut resensinya. Pada umur 24 tahun, Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: “Kita harus merdeka. Sekarang!!!” Akibatnya, dia harus dipenjara karena dituduh menghasut dan memberontak.

Pleidoinya yang sangat terkenal, “Indonesia Menggugat”, mengantarkannya ke pembuangan di Ende, lalu ke Bengkulu. Di Bengkulu, hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatma, padahal Sukarno masih menjadi suami Inggit Garnasih.

Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Hatta dan Sjahrir, rival politik Sukarno, mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Sukarno punya keyakinan, “Jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan.”

Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa. Biarlah sejarah yang membersihkan namaku.” Kalimat Sukarno dalam biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia(1966) yang ditulis Cindy Adams itu kiranya cukup merangkum film Soekarno garapan Hanung Bramantyo.

Bung Karno bukan hanya sebagai politisi andal dan negosiator hebat, tapi juga suami yang dicemburui istri serta laki-laki yang takut darah. Nama lahir Sukarno adalah Kusno. Dia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, saat fajar. Karena bocah ini sakit-sakitan, bapaknya, Raden Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tejo), mengganti nama Kusnojadi Sukarno. Inspirasinya dari tokoh pewayangan, Adipati Karno, dengan harapan kelak putranya itu jadi pejuang bagi negara.

Harapan bapaknya terpenuhi. Pada umur 24 tahun, Sukarno (Ario Bayu) mengguncang podium, “Kita harus merdeka, sekarang!” Dia langsung diseret Belanda ke penjara dengan tuduhan menghasut dan memberontak, tapi keberanian Sukarno tidak pernah padam.

Istrinya yang 12 tahun lebih tua, Inggit Garnasih (Maudy Koesnaedi), terus memberi semangat. Ketika Kusno nya dipenjara di Penjara Banceuy (1929) dan Sukamiskin (1930), Inggit, dari pendapatan meramu jamu, menjamin kesejahteraan Sukarno di penjara.

Dengan terlebih dulu menyelipkan uang ke sipir, Inggit dibolehkan membawa bukan hanya makanan untuk suaminya, tapi juga beberapa penerbitan koran, benda yang dilarang masuk penjara. Pleidoi “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Sukarno di depan Landraad, Bandung, mengantarkannya ke pembuangan di Ende. Sukarno membawa Inggit serta putri angkat mereka, Ratna Djuami atau Omi. Di Ende, anak angkat pasangan ini bertambah lagi dengan kehadiran Kartika dan Riwu. Mereka semua ikut diboyong sewaktu Sukarno dipindahkan Belanda dari Ende ke Bengkulu.

Di Bengkulu, Sukarno mengenal Fatmawati (Tika Bravani), putri tunggal tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din (Mathias Muchus). Fatma juga teman main Omi. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan bibit cinta di hati Sukarno dengan Fatma, dan tentu tercium oleh Inggit.

Kedatangan Jepang menggantikan Belanda menerbitkan harapan baru pada trio Sukarno, Hatta (Lukman Sardi), dan Sjahrir (Tanta Ginting) akan tercapainya kemerdekaan Indonesia. Caranya tidak bisa lagi seperti dulu yang grusa-grusu, melainkan harus cerdik. Hatta sepakat dengan Sukarno, tapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda bahkan mencemooh Sukarno-Hatta sebagai kolaborator Jepang. Hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, benarkah hanya “upah atas kerja sama” Sukarno selama ini dengan Jepang?

Dalam durasi 2 jam 17 menit, Hanung menggambarkan Bung Karno yang memiliki kompleksitas sebagai manusia dengan visi jauh ke depan. Bukan dalam kisah pengultusan, pengerdilan, atau malah pembelokan sejarah. Bukan juga jadi mitos para pemuja ajaran Marhaen (kerakyatan). Sejarah, yang multitafsir, diletakkannya sebagai proses dialog.

Hanung menyandarkan filmnya pada tiga buku yang jadi referensi utama, yakni Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966) oleh Cindy Adams, Soekarno: Nederlandsch Onderdaan - Een Biografie 1901-1950 (1991) oleh Lambert J. Giebels, dan Soekarno: Founding Father of Indonesia (2002) oleh Bob Hering. Selain itu, buku-buku tentang Inggit Garnasih, Tan Malaka, dan Oemar Said Tjokroaminoto jadi pengaya. Dia juga menemui keluarga Bung Karno, terutama anak-anaknya, dan melakukan diskusi dengan sejarawan. Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, hingga Bogor dijadikan lokasi syuting dengan melibatkan 3.000 pemain dan figuran. Rumah di Pegangsaan Timur 56 pun dibangun ulang, di Yogyakarta, dengan bentuk dan ukuran serupa dengan ongkos Rp 300 juta. Tak mengherankan jika pagu dana keseluruhan film ini mencapai Rp 20 miliar.

Maudy Koesnaedi sangat baik memainkan karakter Inggit, perempuan bertubuh ringkih tapi bermental kuat dan berpendirian kukuh menolak dimadu. Untuk hal terakhir ini, Hanung memberi ruang “penyesalan” bagi Inggit ketika memilih mundur dari sisi Kusno-nya, pulang ke Bandung.

Inggit dulu meninggalkan suaminya, Haji Sanusi, demi pemuda Kusno yang sudah beristri Oetari Tjokroaminoto. Maka tak berlebihan jika musik indah Wanita ciptaan Ismail Marzuki mengiring di banyak kemunculan Inggit di layar.

Durasi yang panjang diisi terlalu banyak adegan pidato berikut riuh-rendah massa yang selalu mengacungkan tangan. Memang Hanung sudah berupaya menggambarkan kedekatan Bung Karno dengan rakyat, misal membela pedagang Tionghoa yang dagangannya diambil Jepang, tapi tetap belum cukup meyakinkan bahwa tokoh ini hatinya bersama rakyat.

Obrolan informal Bung Karno dengan tiga anak angkatnya juga minim tergali. Lebih banyak proses pendekatan Bung Karno dengan Fatma, gadis yang menolak pinangan seorang bujang dengan alasan cintanya cuma pada bapak kawannya itu. Akhirnya, inilah Sukarno, sosok yang punya banyak sisi. Kehebatannya justru karena banyak kekurangan, dan itu dia akui sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar