Selasa, 04 Maret 2014

The Wolf of Wall Street

The Wolf of Wall Street
Jenis Film: Drama
Produser: Martin Scorsese, Leonardo DiCaprio, Riza Aziz, Emma Tillinger Koskoff
Produksi: Eagle Films
Sutradara: Martin Scorsese
Durasi: 165 menit

Berkisah tentang seorang pialang saham New York, Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio). Belfort memulai dengan saham hingga korupsi pada akhir 1980-an. Sukses dan kaya pada awal usia 20-an tahun sebagai pendiri perusahaan broker Stratton Oakmont membuat Belfort diberi gelar Serigala dari WallStreet.

Uang, kekuasaan, wanita, dan obat-obatan adalah godaan sekaligus ancaman. Bagi Belfort dan timnya, kerendahan hati dengan cepat dianggap sesuatu yang berlebihan, dan uang berlimpah tidaklah pernah cukup.

12 Menit

12 Menit

Jenis Film: Drama
Produser: Cindy Sutedja, Regina Septapi
Produksi: Big Pictures
Production: Cinevisi
Sutradara: Hanny R. Saputra
Durasi: 108 menit

Rene, pelatih marching band dari Jakarta, memutuskan pindah ke Bontang, Kalimantan Timur, demi melatih di sana. Ia pikir tugas dan bebannya sebagai pelatih akan sama seperti biasanya. Ternyata Rene salah. Ia berhadapan dengan 130 anggota dan 130 keraguan. Rene ingin mengajari mereka terbang, padahal mereka merasa tak punya sayap.

Masalah demi masalah terus menerpanya; masalah dalam bentuk Tara, Elaine, dan Lahang. Tara adalah drumer berbakat tapi punya pengalaman masa kecil yang traumatis. Elaine keturunan Jepang, pencinta musik yang dipaksa ayahnya jadi ilmuwan. Dan Lahang anak Dayak, pemain kuarto yang dibebani penyakit bapaknya. Semuanya bergabung dalam marching band. Semuanya merelakan ribuan jam berlatih demi penampilan 12 menit di Grand Prix Marching Band, Jakarta. Semuanya menuju satu impian yang akan mereka kenang selamanya.

Rene seorang pemimpin, seorang pemimpi. Bisakah ia membawa Tara, Elaine, dan Lahang berangkat ke Jakarta? Bisakah ia memimpin 130 anggotanya menuju satu impian? Bisakah ia meyakinkan anak-anak ini bahwa mereka sebenarnya sanggup terbang sangat tinggi?

Sukarno hadir di Jatos

 Sukarno hadir di Jatos

Genre: Drama
Distributor: MVP Pictures
Producer: Raam Punjabi
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Ben Sihombing, Hanung Bramantyo
Pemain: Ario Bayu, Maudy Koesnaedi, Tika Bravani, Lukman Sardi, Ferry Salim, Tanta Ginting, Agus Kuncoro, Sujiwo Tejo
Durasi: 2 jam 17 menit

Sukarno hadir di Jatos. Kehadiran Sukarno di Jatos Jatinangor banyak dinanti-nanti oleh penikmat film genre drama ini untuk di putar di cinema 21 Jatos. Fim Sukarno di sutradarai oleh Hanung Bramantyo. Berikut resensinya. Pada umur 24 tahun, Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: “Kita harus merdeka. Sekarang!!!” Akibatnya, dia harus dipenjara karena dituduh menghasut dan memberontak.

Pleidoinya yang sangat terkenal, “Indonesia Menggugat”, mengantarkannya ke pembuangan di Ende, lalu ke Bengkulu. Di Bengkulu, hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatma, padahal Sukarno masih menjadi suami Inggit Garnasih.

Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Hatta dan Sjahrir, rival politik Sukarno, mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Sukarno punya keyakinan, “Jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan.”

Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa. Biarlah sejarah yang membersihkan namaku.” Kalimat Sukarno dalam biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia(1966) yang ditulis Cindy Adams itu kiranya cukup merangkum film Soekarno garapan Hanung Bramantyo.

Bung Karno bukan hanya sebagai politisi andal dan negosiator hebat, tapi juga suami yang dicemburui istri serta laki-laki yang takut darah. Nama lahir Sukarno adalah Kusno. Dia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, saat fajar. Karena bocah ini sakit-sakitan, bapaknya, Raden Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tejo), mengganti nama Kusnojadi Sukarno. Inspirasinya dari tokoh pewayangan, Adipati Karno, dengan harapan kelak putranya itu jadi pejuang bagi negara.

Harapan bapaknya terpenuhi. Pada umur 24 tahun, Sukarno (Ario Bayu) mengguncang podium, “Kita harus merdeka, sekarang!” Dia langsung diseret Belanda ke penjara dengan tuduhan menghasut dan memberontak, tapi keberanian Sukarno tidak pernah padam.

Istrinya yang 12 tahun lebih tua, Inggit Garnasih (Maudy Koesnaedi), terus memberi semangat. Ketika Kusno nya dipenjara di Penjara Banceuy (1929) dan Sukamiskin (1930), Inggit, dari pendapatan meramu jamu, menjamin kesejahteraan Sukarno di penjara.

Dengan terlebih dulu menyelipkan uang ke sipir, Inggit dibolehkan membawa bukan hanya makanan untuk suaminya, tapi juga beberapa penerbitan koran, benda yang dilarang masuk penjara. Pleidoi “Indonesia Menggugat” yang dibacakan Sukarno di depan Landraad, Bandung, mengantarkannya ke pembuangan di Ende. Sukarno membawa Inggit serta putri angkat mereka, Ratna Djuami atau Omi. Di Ende, anak angkat pasangan ini bertambah lagi dengan kehadiran Kartika dan Riwu. Mereka semua ikut diboyong sewaktu Sukarno dipindahkan Belanda dari Ende ke Bengkulu.

Di Bengkulu, Sukarno mengenal Fatmawati (Tika Bravani), putri tunggal tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din (Mathias Muchus). Fatma juga teman main Omi. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan bibit cinta di hati Sukarno dengan Fatma, dan tentu tercium oleh Inggit.

Kedatangan Jepang menggantikan Belanda menerbitkan harapan baru pada trio Sukarno, Hatta (Lukman Sardi), dan Sjahrir (Tanta Ginting) akan tercapainya kemerdekaan Indonesia. Caranya tidak bisa lagi seperti dulu yang grusa-grusu, melainkan harus cerdik. Hatta sepakat dengan Sukarno, tapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda bahkan mencemooh Sukarno-Hatta sebagai kolaborator Jepang. Hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, benarkah hanya “upah atas kerja sama” Sukarno selama ini dengan Jepang?

Dalam durasi 2 jam 17 menit, Hanung menggambarkan Bung Karno yang memiliki kompleksitas sebagai manusia dengan visi jauh ke depan. Bukan dalam kisah pengultusan, pengerdilan, atau malah pembelokan sejarah. Bukan juga jadi mitos para pemuja ajaran Marhaen (kerakyatan). Sejarah, yang multitafsir, diletakkannya sebagai proses dialog.

Hanung menyandarkan filmnya pada tiga buku yang jadi referensi utama, yakni Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966) oleh Cindy Adams, Soekarno: Nederlandsch Onderdaan - Een Biografie 1901-1950 (1991) oleh Lambert J. Giebels, dan Soekarno: Founding Father of Indonesia (2002) oleh Bob Hering. Selain itu, buku-buku tentang Inggit Garnasih, Tan Malaka, dan Oemar Said Tjokroaminoto jadi pengaya. Dia juga menemui keluarga Bung Karno, terutama anak-anaknya, dan melakukan diskusi dengan sejarawan. Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, hingga Bogor dijadikan lokasi syuting dengan melibatkan 3.000 pemain dan figuran. Rumah di Pegangsaan Timur 56 pun dibangun ulang, di Yogyakarta, dengan bentuk dan ukuran serupa dengan ongkos Rp 300 juta. Tak mengherankan jika pagu dana keseluruhan film ini mencapai Rp 20 miliar.

Maudy Koesnaedi sangat baik memainkan karakter Inggit, perempuan bertubuh ringkih tapi bermental kuat dan berpendirian kukuh menolak dimadu. Untuk hal terakhir ini, Hanung memberi ruang “penyesalan” bagi Inggit ketika memilih mundur dari sisi Kusno-nya, pulang ke Bandung.

Inggit dulu meninggalkan suaminya, Haji Sanusi, demi pemuda Kusno yang sudah beristri Oetari Tjokroaminoto. Maka tak berlebihan jika musik indah Wanita ciptaan Ismail Marzuki mengiring di banyak kemunculan Inggit di layar.

Durasi yang panjang diisi terlalu banyak adegan pidato berikut riuh-rendah massa yang selalu mengacungkan tangan. Memang Hanung sudah berupaya menggambarkan kedekatan Bung Karno dengan rakyat, misal membela pedagang Tionghoa yang dagangannya diambil Jepang, tapi tetap belum cukup meyakinkan bahwa tokoh ini hatinya bersama rakyat.

Obrolan informal Bung Karno dengan tiga anak angkatnya juga minim tergali. Lebih banyak proses pendekatan Bung Karno dengan Fatma, gadis yang menolak pinangan seorang bujang dengan alasan cintanya cuma pada bapak kawannya itu. Akhirnya, inilah Sukarno, sosok yang punya banyak sisi. Kehebatannya justru karena banyak kekurangan, dan itu dia akui sepenuhnya.

Senin, 03 Maret 2014

Blue Jasmine

Blue Jasmine
Judul: Blue Jasmine
Genre: Drama
Sutradara: Woody Allen
Skenario: Woody Allen
Produksi: Sony Pictures Classics
Pemain: Cate Blanchett, Alec Baldwin, Peter Sarsgaard
Durasi: 1 jam 38 menit.

"Tidak usah jadi dokter, cukup jadi istri dokter” atau “tidak usah jadi insinyur, jadi bu insinyur saja.” Masih ingat pemeo zaman kiwari itu? Pemeo itu bertujuan mematikan cita-cita tinggi perempuan untuk bersekolah karena, toh, akan mengurus rumah juga. Cukup dandan yang cantik, duduk manis menunggu dipersunting mas dokter atau bang insinyur yang tajir.

Namun pemeo itu tidak punya solusi pada si perempuan jika rumah tangganya kandas, atau suaminya mati di saat usia pernikahan mereka, katakanlah, 10 tahun. Atau lebih buruk lagi, suaminya ditangkap polisi dan seluruh harta disita negara. Nyonya kaya dari New York, istri pengusaha Hal (Alec Baldwin). Keduanya tinggal di kawasan mewah New York bersama Danny, anak kandung Hal dari perempuan sebelumnya.

Madison Avenue, yang berisi deretan toko barang-barang mahal, adalah taman bermain Jasmine. Dia juga primadona di setiap pesta, menyapa semua yang datang sambil memamerkan entah cincin, entah kalung, entah gelang yang baru dihadiahkan suaminya. Di suatu malam, Jasmine, yang lelah sepulang pesta, berendam di bath-tub. Sambil memainkan busa di tangan, dia berkata kepada Hal, “Aku mau libur dulu, tidak yoga, tidak pilates, tidak ke pesta pengumpulan dana.” Ya, yoga, pilates, dan pesta yang bagi orang lain adalah aktivitas mahal, tapi bagi Jasmine adalah “pekerjaan” yang kadang demikian melelahkan hingga perlu ambil libur.

Di puncak gelimang kemewahan, suami Jasmine ditangkap polisi dengan tuduhan penipuan. Ternyata, selama ini, Hal mengumpulkan dana dari investor dengan janji akan dibangun resor di  negara lain, tapi ternyata resor itu tidak pernah ada. Dia juga mengemplang pajak untuk bisnis-bisnisnya di dalam negeri.

Seluruh rumah berikut isinya, termasuk seluruh rekening istrinya, disita negara. Danny, yang tak tahan menanggung malu, keluar dari kampusnya dan pergi entah ke mana. Setelah diusir negara dari tempat tinggalnya, Jasmine pergi ke San Francisco, menumpang di apartemen sempit adiknya, Ginger (Sally Hawkins). Sehari-hari Ginger bekerja di supermarket.

Dia tinggal bersama dua putranya yang masih bocah, dan sudah bercerai dari suami, Augie (Andrew Dice Clay), yang masih menyimpan dendam pada Hal dan Jasmine. Dulu, Augie dan Ginger pada akhirnya bisa berlibur ke New York setelah mendapat lotre US$ 200 ribu. Augie mengikuti saran Jasmine untuk menginvestasikan uangnya ke bisnis Hal. Hasilnya, boro-boro untung, uangnya malah tidak kembali, dan keuangan rumah tangga Augie Ginger berantakan.

Ginger kini punya pacar bernama Chili (Bobby Cannavale), yang bekerja di bengkel. Untuk menunjukkan keseriusan hubungan mereka, Chili bersiap pindah ke rumah Ginger untuk hidup bersama. Jasmine tak bisa berlama-lama duduk-duduk saja di rumah adiknya. Dia harus segera mencari kerja lalu mencari tempat tinggal. Namun mencari kerja bukan hal mudah karena selama ini dia kenal istilah “kerja” hanya untuk yoga, pilates, dan pesta. Apalagi hanya bermo dal ijazah SMA. “Aku menyesal, mengapa dulu meninggalkan kuliah di tahun terakhir.”  

Blue Jasmine adalah jawaban Woody Allen bagi kejatuhan ekonomi Amerika. Rakyat ditinggalkan dengan kekalutan setelah kehilangan rumah yang selama ini ditempati dengan tetap mengenang keindahan hidup sebelumnya.

Mungkin Woody Allen ingin Amerika dalam hal ini Jasmine menerima bahwa hari-hari indah itu tidak akan pernah kembali. Woody Allen membuat Blue Jasmine jadi sebuah film yang menarik untuk ditonton walau lebih muram dan pahit dibanding Purple Rose of Cairo (1985) dan tidak serumit Crimes and Misdemeanors (1989). Nuansanya mirip Match Point (2005).

Latar belakang Jasmine diceritakan dalam penggalan-penggalan adegan kilas balik alur maju-mundur, menciptakan tone getir yang tajam. Perempuan di ujung depresi ditangkap sempurna tanpa tenggelam dalam lelucon. Cate Blanchett memberikan penampilan luar biasa impresif sebagai seorang perempuan yang terkenal di kalangan sosialita, egois, sok elite, resah, dan bernasib tragis. Dia memandang jijik pada mereka yang dianggap berkelas rendah, termasuk rumah adiknya dan pacar adiknya. Jasmine bahkan terus mendorong Ginger untuk mencari pacar yang lebih berkelas.

Walau dibintangi komedian, seperti Louis C.K., Andrew Dice Clay, dan Baldwin (yang juga membintangi film terakhir Allen, To Rome with Love, 2012), film ini tidak memunculkan humor yang kental. Alih-alih komedinya tenang dan situasional, seperti ketika Jasmine yang frustrasi kedapatan sedang berbohong, atau Ginger sedang menyusun apel sementara pacarnya yang macho itu memohon Ginger agar kembali padanya.

Blue Jasmine bisa saja kurang bertabur bintang, tapi bintang yang sedikit itu adalah para penampil luar biasa. Film ini sangat layak ditonton bahkan dengan alasan untuk menikmati penampilan Cate Blanchett saja.

STREET SOCIETY

STREET SOCIETY
Jenis Film: Action, Drama
Produser: Eryck Wowor,
Irwan Santoso
Produksi: Ewis Pictures
Sutradara: Awi Suryad
Durasi: 97 menit

Simbol kemajuan Indonesia. Dengan latar inilah Street Society bergulir. Sebuah kisah yang akan membawa kita menelusuri kehidupan anak-anak muda Indonesia pemilik supercars, seperti Lamborghini, McLaren, Aston Martin, serta Ferrari. Lebih dari simbol kemapanan, mobil-mobil ini datang dengan performa yang mampu memacu adrenalin para pengemudinya ke level tertinggi.

Adalah Rio (Marcel Chandrawinata), juara street racing Jakarta yang urakan namun karismatik, yang menjadi tokoh utama. Bersama sobat dekatnya, Monty (Daniel Topan), si kutu buku yang jenius tuning, dan Bang Frankie (Ferry Salim), si pemilik bengkel performance, Rio berusaha menjawab tantangan demi tantangan yang datang ke arahnya.

Nico (Edward Gunawan), si juara racing asal Surabaya, adalah musuh bebuyutannya. Namun di luar itu masih ada Gde (Yogie Tan), si juara racing Bali; Nanda (Kelly Tandiono), si racer cantik asal Semarang dan juga Yopie (Edward Akbar), sosok misterius yang baru muncul di tengah society pemilik supercars Jakarta.

POMPEII

POMPEII
Jenis Film: Action, Drama, Adventure
Produser: Paul W.S. Anderson,
Jeremy Bolt, Don Carmody,
Robert Kulzer, Martin Moszkowicz
Produksi: Entertainment One
Sutradara: Paul W.S. Anderson
Durasi: 105 menit

Tahun 79 SM, kisah epik tentang Milo (Kit Harington), budak yang menjadi gladiator tak terkalahkan. Berlomba melawan waktu untuk menyelamatkan kekasihnya, Cassia (Emily Browning), putri dari seorang pedagang kaya yang telah ditunangkan dengan seorang senator Romawi yang korup. Saat Gunung Vesuvius meletus, Milo harus berjuang mencari jalan keluar dari bencana dan menyelamatkan Cassia dari runtuhnya negeri Pompeii yang megah.

FREE BIRDS

FREE BIRDS

Jenis Film: Animation, Adventure, Comedy
Produser: Scott Mosier
Produksi: Relativity Media
Sutradara: Jimmy Hayward
Durasi: 91 menit

Film animasi FREE BIRDS ini mengisahkan petualangan dua ekor kalkun yang memiliki sisi berlawanan. Reggie (Owen Wilson) secara mendadak diajak Jake (Woody Harrelson) untuk bertualang ke masa lalu.

Tujuan Jake cuma satu, mengubah sejarah dengan menyingkirkan kalkun dari daftar menu Thanks giving untuk selamanya. Walau banyak perbedaan, demi kesuksesan misi mereka, keduanya saling bekerja sama untuk mengubah sejarah kalkun.

Minggu, 02 Maret 2014

HER

HER
Judul: Her
Genre: Drama | Romance | Sci-Fi
Sutradara: Spike Jonze
Skenario: Spike Jonze
Produksi: Warner Bros. Pictures
Pemain: Joaquin Ph oenix, Amy Ad ams, Scarlett Johanss on
Durasi: 2 jam 6 menit

Manusia lalu-lalang di kaki gedung-gedung pencakar langit Los Angeles masa depan. Sambil berjalan, tiap orang sibuk bicara sendiri. Bukan sendiri, tepatnya, tapi dengan “seseorang” di luar sana, yang suaranya disampaikan lewat earpiece yang terpasang di salah satu kuping.
 
Di antara manusia sibuk itu Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) duduk di bangku taman. Dia juga sedang ngobrol seru dengan temannya lewat earpiece, kadang suaranya meninggi, kadang sampai terkikik. Teman curhat manusia masa depan itu sebenarnya bukan manusia, melainkan operating system (OS), komputer teknologi canggih yang dapat mendengar, bicara, dan melihat. Alatnya selebar telapak tangan, ada kamera, dan bisa memunculkan tulisan tangan. Pasangannya adalah earpiece, yang kalau diletakkan di lubang telinga, maka akan ada yang menyahut di sana.

OS milik Theodore bernama Samantha (di isi suarakan Scarlett Johansson) yang bersuara serak seksi. Awalnya, Samantha hanya membantu dalam bekerja, mengingatkan ada email masuk, atau mengatur jadwal harian Theodore. Namun, lama-kelamaan, komunikasi mereka semakin pribadi.

Theodore merasa nyaman curhat tentang apa saja pada Samantha, termasuk tentang pernikahannya yang gagal dengan Catherine (Rooney Mara) tapi dia tak juga menandatangani surat perceraian. Theodore masih tenggelam dalam depresi, sedangkan Catherine sudah bisa melanjutkan hidupnya.

Theodore adalah pria berusia 40 an, berkumis, berkacamata geeky, bercelana panjang dengan garis pinggang tinggi (mirip celana pelawak Jojon), dan gemar berkemeja warna pastel. Dia bekerja sebagai penulis kartu ucapan, di kantor yang tidak banyak karyawan.

Saat malam, Theodore pulang ke apartemennya yang luas. Menyalakan kamera, memasang earpiece, dan melanjutkan obrolan dengan Samantha hingga mengantuk. Pernah pula Samantha meminta Theodore tidak mematikan kamera agar dia bisa melihat bagaimana Theodore tidur.

Bersamaan tumbuhnya rasa cinta di hati Theodore, tumbuh pula rasa ingin memiliki dan cemburu. Theodore ingin Samantha hanya untuknya. Padahal Samantha melayani jutaan orang yang berteman dengan OS. Di detik yang sama, saat bicara dengan Theodore, Samantha pun bicara dengan ribuan orang lainnya.
 
HER adalah tipikal film tentang pria kesepian. Tinggal sendirian di apartemen, kerja dengan rutinitas orang kantoran, dan sensitif. Karakter Theodore yang rapuh nampak benar di balik gesturnya yang kikuk dan seringai kekanakannya. Kisah cintanya ganjil, menyedihkan, dan semakin menguatkan anggapan teknologi yang diakrabi justru menjadikan seseorang makin kesepian.

HER juga merupakan sebuah alegori bahwa pria kesepian takut pada perempuan, sehingga memilih bermain aman dengan gadget. Lapis terdalam HER lebih condong ke metafisika ketimbang fisik. Betapa tidak, karakter yang paling menarik justru tidak ada wujudnya. Melalui film ini, Spike Jonze semakin memantapkan diri sebagai sutradara spesialis film berkonsep pemikiran tingkat tinggi lalu menghelanya ke sebuah meditasi tentang hubungan manusia.

Tengok saja film-film Jonze sebelumnya, seperti Being John Malkovich (1999), Adaptation (2002), dan Where the Wild Things Are (2009). HER lebih menyerupai Synecdoche (2008) nya Charlie Kaufman, yang jadi penulis skenario Being John Malkovich dan Adaptation. Punya banyak kesamaan juga dengan Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), tentang sulitnya moving on dari hubungan yang awalnya nampak sempurna.

Samantha disuarakan dengan sangat hidup oleh Scarlett Johansson. Tak mengherankan kalau penonton berharap sosoknya muncul walau hanya beberapa detik, entah itu di layar komputer, atau di gadget Theodore, atau jadi salah satu di kerumunan, atau jadi hantu blau apapunlah. Sampai-sampai kritikus menyebut inilah penampilan Johansson yang paling dikenang abad ini, walau dia tampil tanpa sosok.

Penampilan Phoenix kali ini sangat berbeda dari penampilan sebelumnya di The Master (2012). Dengan kehalusan yang luar biasa dia melekatkan kesepian dan kerinduan dalam diri Theodore. Matanya berbicara lebih banyak ketimbang yang dia ucapkan. Terlebih lagi Jonze kerap membingkai Theodore dalam ruang yang luas. Bahkan apartemennya membuat Theodore jadi kecil.

Jonze menyodorkan pertanyaan tentang bisakah dua sistem yang berbeda, yakni manusia dan teknologi, menemukan kebahagiaan? Pertanyaan ini berputar terus sepanjang film. Mungkin itu sebabnya Jonze menempatkan Amy (Amy Adams), kawan kuliah Theodore dan sekarang jadi tetangga, sebagai kayu patok.

Amy pernah berkata pada Theodore yang sedang mabuk cinta pada OS nya, “Menurut saya, siapa pun yang jatuh cinta itu aneh. Semacam kegilaan yang dapat diterima masyarakat.” Amy membuat kesimpulan yang tepat tentang HER bahwa, kadang, gila bisa terasa indah.